Kamis, 29 November 2012

BANI UMAYAH II ANDALUSIA


A.      Faktor Masuknya Islam ke Andalusia
Bani umayyah merebut andalusia dari bangsa gotsia barat pada masa kholifah Walid Bin Abdul Malik ( 86-96 H / 705-715 M ) masuknya islam ke andalusia tidak bisa dipisahkan dari kondisi kerajaan gotsia barat yang mengalami kemunduran akibat beberapa hal yaitu :
1.    Perpecahan elit politik
2.    Penindasan penguasa nasrani terhadap orang-orang yahudi
3.    Beban pajak yang sangat tinggi.
B.       Proses Masuknya Islam ke Andalusia.
Bangsa Arab pada saat itu mengintai peluang yang baik untuk menaklukkan Andalusia. Pada tahun 710M Witiza raja gotsia barat wafat dan singgasana diduduki secara paksa oleh panglimanya yang bernama Roderic. Maka anak Witiza dendam pada Roderic. Untuk merebut kembali kedudukan mediang ayahnya iya bersekuti dengan Graf Julian ( raja Cueta ) yang juga musuh Roderik. Akhirnya mereka minta bantuan kepada Musa Bin Nushair ( gubernur afrika utara ), tentu Musa mintak izin kepada kholifah Walid atas hal tersebut. Akhirnya kholifah mengizinkan dan berpesan agar berhati-hati terhadap Graf Julian. Untuk membuktikan kebenaran Graf Julian maka musa memerintahkan perwira Thorif Bin Malik dengan membawa 500 orang tentara yang akhirnya mampu menguasai beberapa pelabuhan di Andalusia selatan dan Thorif mendapat bantuan besar dari Graf hingga mendapatkan harta rampasan yang banyak.
Satahun kemudian Musa mengirimkan 7000 orang tentara yang dipimpin oleh Toriq bin Ziyad, dan mendarat di bukit karang gibraltal ( jabal thorik ). Sampai disana ia menduduki propensi selatan kerajaan Gosia barat ( semenanjung Iberia ) dan menguasai benteng kuat terus menuju kerajaan toledo ibukota kerajaan Gosia. Ketika mendengar tentara Thorik masuk Andalusia Roderic langsung mengirimkan 100.000 tenteranya, melihat musuh tidak seimbang segeralah Tkoric memintak bantuan kepada Musa dan dikirimlah sebanyak 5000 orang tentara lalu terjadilah perang xeres ( dikota xeres ), dakam perang tersebut tenra Toriq bin Ziyad berhasil menang Roderic sendiri tewas. Kemenangan Toriq bin Ziyad tida lepas dari Graf julian yang sangat benci kepada Roderic. Dampak dari kemenangan itu beberapa daerah berangsur-angsur dapat ditundukkan seperti : Tholedo, Sevilla, Malaga, Elvira, dan Kordova.

Mendengar keberhasilan Toriq bin Ziyad, Musa ingin mendapat expansi keandalusia, pada tahun 712M, Musa bersama 18.000 tentara Barbar dan Arab menuju Andalusia dan dapat menaklukkan daerah Carmuna dan beberapa wilayah Barcelona sebelah timur. Didekat kota Tholedo Musa menjumpai Toriq bin Ziyad, pada kesempatan itu Musa memarai Toriq bin Ziyad yang tidak melaporkan hasil rampasan perang. Tetapi akhirnya keduanya mencapai kesepakatan untuk bekerjasama dan membentuk pasukan gabungan Islam untuk melancarkan serangan lebih jauh keandalusia lainnya. Setelah menaklukkan beberapa daerah diandalusia Musa ingin melanjutkan serangannya ke Perancis tetapi Kholifah Walid khawatir Musa akan memproklamirkan Negara / wilayah-wilayah yang ditaklukkannya menjadi independen karna itu ia memanggil Musa untuk pulang ke Andalusia Untuk melaporkan Harta rampasan. Abdul Aziz putra Musa ditunjuk sebagai pelaksana gubernur di Andalusia.
Keberhasilan tentara Islam yang dipimpin oleh Toriq bin Ziyad dan Musa ini membawa citra Bagi umat Isalam, sebab penaklukkan Andalusia / spanyol membuka lembaran baru dalam perjalanan sejarah politik militer umat islam khususnya pada masa dinasti Bani Umayyah I ( 661-750M ). Karna umat Islam telah membebaskan masyarakat Andalusia dari kekejaman dan kedholiman penguasa Roderic. Jatuhnya Andalusia itu membuka jalan baru bagi umat islam untuk menyebarkan Islam keseluruh Eropa, namun sayang konflik interen kemudian menjadi penyebab utama kehancuran penguasa islam di spanyol yang menyebebkan mereka terusir dari negara itu pada tahun 1492M.

I.     Abdurrahman Addakhil Pendiri Bani Umayyah II di Andalusia
Awal perjalanan Abdurrahman sampai keandalusia sangat sulit, ia dikejar-kejar oleh pasukan Abu ja’far Almanshur, raja Bani Abasyiah yang berupaya melenyapkan sisa-sisa bani Umayyah termasuk Abdurrahman namun mengalami kegagalan yang akhirnya berdirilah bani Umayyah II di Andalusia ( 756-1031M ), dinasti ini mencapai kejayaannya pada masa Abdurrahman III ( 300-350H / 912-916M )selama periode bani umayyah II kordova tetap menjadi kota yang megah seperti kemegahan bahgdat pada masa bani abasiya. Abdurrah menjadi raja selama 32 th ( 138-172H / 756- 788M ) yang wilayahnya meliputi kordova, Arkidona, Sevilla, Tholledo, dan Grannada. Untuk memperluas dan mempertahankan wilayahnya beliau membangun dan mengembangkan angkatan bersenjata yang kuat dan terlatih dari bangsa barbar yang dikenal cukup loyal karena digaji cukup tinggi. Setelah relatif berhasil menciptakan konsolidasi dan integrasi masyarakat Andalusiya, Addakhil mulai memperhatikan kemajuan peradaban, ia memperindah kota-kota diwilayah kekuasaannya, membangun saluran air bersih disekeliling ibu kota, membangun Istanah Munyah Ar-rusafah meniru Istana di damaskus. 2 tahun setelah kematiannya ia membangun masjid raya Kordova yang bertahan sampai sekarang dengan nama populer La Mozqoeta, selain masjid ia juga membangun jembatan yang melintasi sungai Guadal Quivir.
II.  Hisyam I ( 172-180H / 788-796M )
Hisyam I adalah putra abdurrahman I sebagaian sejarawan menyerupakan ketegasannya sama dengan Umar Bin Abdul Aziz ( raja ke 8 Bani Umayyah di Damaskus ). Hisyam I sangat besar perhatiannya terhadap kesejahteraan dan keadilan rakyatnya, ia terkenal sebagai kholifah yang dekat dengan para ulama’, mereka mendapatkan kesempatan besar untuk mengembangkan kemampuan dan ilmu mereka kepada rakyat, serta mendapatkan kedudukan yang sangat diperhitungkan didalam pemerintahan. Diantara ulama’ yang hidup pada masa itu adalah Yahya Bin Yahya Al-Laits salh seorang murit imam malik ( kitab Al-muato’ ). Dalam menjalankan repotasi pemerintahannya hisyam tidak segan-segan memecat pejabat yamg dinilai lalai dan korup, ia mendirikan dinasti intelijen yang bertugas mengawasi para pejabat, ia juga dikenal sangat populis, adil dan sebagai pencetus pengajaran bahasa arab di sekolah-sekolah termasuk sekolah yahudi. Setelah memerintah 7 thn lebih ia wafat dengan meninggalkan kajayaan Bani Umayyah II diandalusia.
III.    Alhakam I ( 180-206H / 796-822M )
Alhakam I adalah putra hisyam I, semenjak pemerintahan Alhakam Andalusia mulai mengalami kemunduran yang siknifikan. Ia kholifah yang pertama kali menerapkan sekularisme dalam pemerintahan, peran ulama’ dibatasi hanya dalam ranah agama dan tidak boleh mempunyai andil dalam urusan pemerintahan. Sikap ini menyulut pemberontakan para ulama’ yag dipimpin oleh Yahya Allaits di cordova namun pemberontakan itu dapat dipadamkan. Di tolitolia dan valensia pemberontakan jg terjadi dibawah pimpinan dua paman alhakam tetapi pemberontakan ini tidak mampu menggeser kedudukan alhakam dari kursi pemerintahannya, karena seringnya terjadi perang saudara antara umat islam raja-raja kristen diutara berupaya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerbu daerah perbatasan sepanyol, namun tentara alhakam berhasil menumpas serbuan tersebut. Setelah memegang tampok pemerintahan dua puluh tuju tahun alhakam I wafat dan diganti putranya yaitu abdurrahman.
IV.    Abd Rahman Al-Ausath ( 206-238H / 822-852M )
Pada masa pemerintahannya sepanyol / Andalusia mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang spt ; Ekonomi, politik, Kurtural, dan Sosial. Kemajuan tersebut hampir menyaingi kemajuan yang dicapai Bani Abasiyah dalam periode yang sama. Khalifah-khalifah Dinasti Bani Umayyah II sangat toleran terhadap multi kulturalisme dan perbedaan Agama, mereka sering mengadakan kerjasama dengan para raja kristen di perbatasan untuk saling menjaga perdamaian kedua belah pihak dari serangan musuh, namun disisi lain banyak pihak yang menodai toleransi ini, para pastur kristen misalnya mereka secara terang-terangan berani mencela nabi Muhammad S.A.W. tentu ini adalh sebuah penghinaan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pada akhirnya khalifah memerintahkan pasukannya untuk melenyapkan mereka.

V.       Muhammad I ( 238-273H / 852-886M )
VI.    Almundzir ( 273-275H / 886-888M )
VII. Abdullah ( 275-300H / 888-912M )
Selama pemerintahan tiga orang tersebut 72 thn hampir tidak ada peristiwa dan perstasi yang mencolok, hanya ada beberapa kejadian yang tertulis dalam sejarah misalnya penumpasan terhadap pemberontakan di Barcelona dan tolitolia. Setelah memegang tampok pemerintahan 35 thn muhammad I wafat dan diganti oleh putranya mundzir yang hanya memerintah selama dua tahun.
Mundzir kemudian diganti oleh abdullah, pada masa perintahannya banyak terjadi pemberontakan kaum kristen disekitar wilayah kordova dan utara sepanyol. Belum lama memerintah sudah banyak wilayah sepanyol yang memisahkan diri dari pangkuan bani umayyah tersebut. Hal ini dikarenakan ketidak kacapan abdullah dalam menyelenggarakan pemerintahannya. Selama 24 thn masa pemerintahannya kekuasaan dan wilayahnya hanya tersisa didaerah granada yang menjadi benteng terakhir dinasti tersebut.
VIII.   Abdurrahman III (300-350H / 912-961M )
Pada masa pemerintahan abdurrahman III inilah dinasti bani umayyah dua mencapai fase keemasan. Dengan berbekal kemampuan dan kewibawaannya dalam masa kurang dari 20 thn ia berhasil memadamkan pemberontakan dan mengembalikan daerah-daerah yang memisahkan diri, termasuk pemberontakan yang dipimpin oleh Umar Bin Hafsun. Sementara itu pasukan kristen di utara sepanyol terus mengganggu wilayah islam, maka abdurrahman terjun langsung memimpin sejumlah pasukan berusaha mengamankan daerah islam disamping itu ia juga berhasil mengamankan daerah perbatasan dengan perancis. Kebijakan luarnegeri ini juga diikuti dengan kelihaiannya dalam melaksanakan pembangunan negara dalam berbagai bidang termasuk pembangunan dermaga dan pelabuhan perdagangan. Keberhasilannya melaksanakan pembangunan dan perluasan wilayah tidak lepas dari kemunduran dalam dinasti Abasyiah ditimur. Abdurrahman III adalah penguasa dinasti umayyah II yang pertama kali memakai gelar kholifah, sehingga pada masa itu ada tiga dinasti islam yang memakai gelar khalifah yaitu dinasti Abasyiah ditimur, dinasti Umayyah II di Sepanyol, dan dinasti Fathimiyah di Mesir.
IX.    Alhakam II ( 350-366H / 961-976M )
Alhakam II mewarisi kekhalifahan yang penuh kedamaian dan kesuksesan dari sang ayah, hanya ada beberapa peperangan penting yang melibatkan pasukan hakam II diantaranya aerang melawan pasukan kristen di Lyon yang melanggar perjanjian damai dengan bani Umayyah II, hakam juga mengirimkan pasukan kemaruko utara dan tengah dan berhasil mengusir pasukan dinasti Fathimiyah dan Idrissiyah yang semula mendudukinya. Dalam bidang ilmu pengetahuan ia banyak mendatangkan buku dari Damaskus, Bagdat, dan Kairo untuk mengisi perpustakaan negara didaerah Kordova.
X.       Hisyam II ( 366-399H / 976-1009M )
Hisyam II menjadi khalifah ketika berumur 10 thn hal ini tentu berimbas pada ketidak cakapannya mengelola jalannya pemerintahan. Oleh kerena itu orang yang paling berpengaruh dan berwenag menjalankan administrasi negara adalah Ibnu Abi Amir ( sang patih ).
Ibnu Abi Amir pada awalnya ia seorang penulis resmi kerajaan tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam menentukan jalannya pemerintahan. Hal ini karena sejak kecil ia adalah orang yang sangat pandai dan cekatan juga lihai melihat situasi dan memanfaatkan kesempatan yang ada didepan mata, bermula dari kedekatannya dengan ibu hisyam II ia mulai mendapat kepercayaan untuk mengelolah mahkamah dibeberapa kota dan menjadi pengawas pelaksanaan zakat dan administrasi lainnya. Ketika banyak keluarga kerajaan yang menentang karena terpilihnya hisyam II sebagai khalifah, Ibnu Abi Amir datang sebagai dewa penyelamat. Keberhasilan ini menarik simpati dari kalangan masyarakat luas karena Ibnu Abi Amir beralasan bahwa itu semua ia lakukan demi menjaga keutuhan negara. Ia juga berhasil menyingkirkan panglima perang yang didakwah berkhianat dan korupsi yaitu Ja’far Bin Ustman Al-Mushhafi dan sebagai panglima perang berikutnya Ibnu Abi Amir berhasil menarik simpati tentara bawahannya dengan kesuksesannya menaklukkan kota Lyon. Dengan kesuksesan yang berturut-turut ini ia mendapat julukan Al-Mansyur Billah.
Dengan keadaan yang seperti ini khalifah Hisyam II tidak lebih dari sebuah simbol yang tidak berarti. Ia sama sekali tidak dikenal oleh masyarakat, bahkan ia dikenal sebagai khalifah yang suka bermain-main dan menghabiskan harta. Ibnu Abi Amir menguasai jalannya pemerintahan dinasti Umayyah II selama 27 thn, ia sakit dan wafat tahun 392 H / 1002 M. Putranya Al-Mudzaffar menggantikannya , namun hanya 6 thn. Sampai sata itu bani Umayyah II masih disegani oleh lawan-lawannya di Eropa tetapi ketika Al-Mudzaffar digantikan ole Abdurrahman An-nasir ( 399-421H / 1009-1031 ) terjadilah kemelut didalam negeri yang mengantarkan dinasti Umayyah II ketepi kehancuran.
C. Perkembangan Peradaban
Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual.
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian membawa dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.
Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari :
- Komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan)
- Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam)
- Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara)
- Al-Shaqalibah (tentara bayaran yang dijual Jerman kepada penguasa Islam)
- Yahudi
- Kristen Muzareb yang berbudaya Arab
- Kristen yang masih menentang kehadiran Islam
Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Andalusia - Spanyol.
1. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al- Mujtahid.
2. Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
3. Fiqih
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
4. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi yang dijiluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
5. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar